Teknologi dan Adab



Teknologi… baik atau buruk?? Adalah sebuah pertanyaan yang sebenarmya tidak seharusnya kita tanyakan karena sebetulnya teknologi bukanlah objek yang bisa kita nilai baik atau buruknya, karena sebenarnya teknologi itu sifatnya netral hanya saja baik-buruknya tergantung kepada sang pengguna teknologi itu sendiri, jikalau sang pengguna teknologo itu adalah orang yang buruk atau jahat maka teknologi itu bisa saja disalahgunakan atas tujuan dan niat yang tidak baik dari sang pengguna atau bisa juga sebaliknya jikalau teknologi itu digunakan oleh orang yang baik maka teknologi itu akan digunakan sesuai dengan kegunaannya dan tidak akan disalahgunakan.

Sebuah contoh dari teknologi yang sangat umum dan sering digunakan oleh manusia pada zaman ini adalah smartphone yang hampir semua orang miliki dan gunakan dan masalah yang terjadi pada teknologi smartphone ini adalah pada penggunanya, ada pengguna yang buruk dan ada juga yang baik. Pengguna yang buruk ialah yang memanfaatkan teknologi ini untuk hal-hal yang tidak baik, maksiat, dan bahkan pengguna yang buruk ini terlalaikan oleh smartphone ini karena tidak bisa mengendalikan diri, tidak seperti pengguna yang baik yang dapat mengendalikan diri dan memanfaatkan teknologi ini secara benar dan tidak berlebihan dan menjadikan teknologi ini bermanfaat.

Di dalam sejarah juga kita mengetahui bagaimana teknologi itu dapat berubah sesuai dengan penggunanya, Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang kedua kota tersebut di bom dengan bom nuklir oleh sekutu dan menyebakan banyak sekali kerusakan dan ribuan nyawa melayang serta banyak efek negatif daripada radiasi dari bom tersebut dan bom itu memiliki teknologi nuklir yang sebenarnya bisa menjadi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia bukan malah mematikan manusia yaitu pembangkit listrik yang bertenaga nuklir. 2 hal yang berteknologi sama namun dampak dari keduanya sangat berbeda dan hal ini disebabkan oleh pengguna yang berbeda.

Nah….. sekarang apa hubungannya teknologi dan adab, sebenarnya teknologi dan adab ini sangat berhubungan dan hubungannya sangat berpengaruh pada dampak dari teknologi tersebut, karena jikalau sang pengguna daripada teknologi tersebut memiliki adab yang baik maka hal-hal buruk dari teknologi tidak akan tercipta. Karena adab itu adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan jika kita menggunakan teknologi itu dengan adab maka pasti kejadian seperti bom di Jepang tidak akan terulang.

Seperti yang dikatakan oleh al-Attas bahwa kekurangan kita ialah “loss of adab” yang berarti kita telah kehilangan adab termasuk adab dalam menggunakan teknologi karena jikalau kita tidak memiliki adab dalam menggunakan teknologi maka pasti tekonologi itu akan selalu disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak memiliki adab, Jadi disitulah hubungan antara teknologi dan adab.

Ilmu Tauhid : Manfaat dan bahayanya





Mempelajari ilmu tauhid bagi setiap muslim sangatlah penting dan krusial, tidak hanya penting dan krusial , namun mempelajarinya walau hanya sekedar memahami itu adalah Fardhu ‘Ain bagi setiap orang muslim yang mukallaf. Jadi tidak hanya penting, tetapi harus karena jika kita mempelajari ilmu tauhid maka secara otomatis kita akan semakin mengenal Allah dan semakin dekat kepada-Nya.

Tauhid sendiri dalam Bahasa berarti menjadikan sesuatu menjadi satu dan dalam istilah berarti “suatu ilmu yang dibahas di dalamnya tentang menetapkan aqidah-aqidah agama yang diperoleh dari dalil-dalil keyakinan yang terperinci dan qad’i”, karena ilmu tauhid adalah seperti yang telah disebutkan diatas maka jika kita mempelajarinya maka pemahaman kita terhadap akidah-akidah agama akan semakin bertambah.

Ilmu Tauhid yang telah dikodifikasikan oleh para ulama’ seperti Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi ini sangatlah penting bagi kita ummat muslim yang Mukallaf untuk mempelajarinya serta kemudian mengamalkannya. Ilmu ini sangatlah penting karena jika seorang muslim tidak mempelajari ilmu tauhid maka  keyakinannya terhadap Allah harus dipertanyakan, karena orang yang tidak belajar ilmu tauhid ini besar kemungkinannya bahwa keyakinan mereka keliru atau bahkan sesat dan lebih berbahaya lagi jikalau dia juga menyebarkan pemahaman yang salah itu kepada orang lain dan hal itu disebabkan oleh pengetahuan yang ia ketahui dari ilmu tauhid sangat minim karena tidak mempelajarinya.

Kita sebagai ummat islam diharuskan mempelajari ilmu tauhid agar kita ini terhindar daripada bahaya kebodohan dan ketidaktahuan di dalam bidang keyakinan, karena dalam masalah keyakinan ini sangatlah fatal akibatnya jika salah dan akibatnya tidak hanya di dunia , tetapi juga di akhirat.
Dijelaskan di dalam Kitab Sullamut Taufiq bahwa masalah I’tiqod atau keyakinan ini sangat fatal penting kenapa?? Karena salah satunya adalah jikalau kita salah dalam berkeyakinan atau keliru maka ada kemungkinan kalua kita bisa keluar dari agama islam dalam keadaan kita tidak mengetahui kalu kita telah keluar dari agama islam, Bagaimana hal itu bisa terjadi?? Nah.. hal ini tentu disebakan ia tidak mempelajari ilmu tauhid dengan benar.

Bahaya dari tidak mempelajari ilmu tauhid seperti yang dituliskan di atas tersebut hanyalah sebagian kecil contoh dari banyaknya bahaya orang yang tidak mempelajari ilmu tauhid, berikut ini salah satu contoh lainnya, orang yang mempelajari ilmu tauhid maka dia akan mengenal Allah dan sebaliknya orang yang tidak mempelajari ilmu tauhid tidak akan mengenal Allah dan orang yang tidak ma’rifat kepada Allah bagaimana caranya ia dapat beribadah kepada Allah, sementara dia tidak mengenal Allah dan tidak memiliki keyakinan yang tetap terhadap Allah, maka amal yang ia lakukan , amal yang ia kerjakan tidak akan menjadi penolong baginya, hanya akan menjadi sia-sia belaka.

Jadi begitulah penjelasan tentang pentingnya mempelajari ilmu tauhid dan bahaya meninggalkannya secara ringkas dan umum dan tulisan ini ditulis atas sumber bacaan antara lain kitab Sullamut Taufiq, Jawahiru kalamiyyah, serta kitab-kitab lain.



KH HASYIM ASY’ARI : PESANTREN HINGGA PERAN DALAM KEMERDEKAAN







KH Hasyim Asy’ari bernama lengkap Muhammad Hasyim Asy’ari, lahir di Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871. Satu hal yang kita bisa kenali dari KH Hasyim Asy’ari dan yang sangat identik dengan beliau adalah satu hal yaitu Pesantren, pesantren adalah satu kata yang sangat familiar bagi KH Hasyim Asy’ari karena sejak beliau masih kecil samapi tuanya ia  habiskan mayoritas waktuya di dalam lingkungan pesantren, sejak kecil sudah mulai menjadi seorang santri dan KH Hasyim Asy,ari pernah nyantri di beberapa pesantren yaitu, Pesantren Wonokoyo, Langitan, Trenggilis, Siwalan, dan Pesantren-pesantren lain.

Setelah sekian lama menuntut ilmu di Tanah Jawa dan akhirnya pada tahun 1892, KH Hasyim Asy’ari mendapatkan kesempatan untuk pergi haji dan sekaligus menuntut ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, kemudian KH Hasyim Asy’ari pulang dari Mekkah dan kembali ke Jombang dan mendirikan sebuah pesantren yang bernama Tebuireng yang pada masanya merupakan sebuah pesantren yang cukup kontroversial karena mesukkan pelajaran-pelajaran yang dinilai sangat aneh dan baru oleh masyarakat pada masa itu seperti belajar membaca huruf latin, pidato, berorganisasi dan hal lainnya. KH Hasyim Asy’ari terus mengasuh Pesantren Tebuireng hingga kita bisa lihat sekarang sebuah pesanten yang sangat besar dan memiliki ribuan santri.

KH Hasyim Asy’ari juga tidak hanya mengurusi Pesantren Tebuireng saja ,tetapi juga bergerak dalam organisasi yang beliau dirikan yaitu Nahdlatul Ulama’ pada tanggal 31 Januari 1926 dan KH Hasyim Asy’ari menjadi ketua umum pertama ormas islam yang kita sering sebut dengan “NU”.

Selain Bergerak dalam organisasi dan juga Pendidikan KH Hasyim Asy’ari juga mempunyai peran dalam menjaga dan mempertahankan kemerdekaan NKRI ini, “Tapi bukankah Hasyim Asy’ari hanyalah seorang ulama?? Memang apa saja peran KH Hasyim Asy’ari dalam masa pra dan pasca kemerdekaan Indonesia??” Memang betul bahwa KH Hayim Asy’ari adalah seorang ulama , namun bukan sembarang ulama karena beliau adalah seorang ulama yang juga sangat menentang penjajahan, maka dari itu banyak sekali peran yang telah ia lakukan dalam hal tercapainya kemerdekaan Indonesia.
Kita tahu bahwa KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 telah mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama yang anggotanya tidak sedikit dan karena KH Hasyim Asy’ari menentang penjajahan baik Jepang maupun Belanda maka sebagai ketua dari organisasi tersubut maka secara otomatis para anggota dari Nahdlatul Ulama akan mengikuti hal yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari yaitu penentangannya terhadap penjajahan.

Kemudian KH Hasyim Asy’ari pada masa pendudukan Jepang di Indonesia pernah dipenjara dan bahkan sampai disiksa oleh Jepang karena satu hal yang beliau tentang dari Jepang yaitu ritual “Sikrei” yang para tentara Jepang melakukannya dan memaksa para penduduk Indonesia untuk juga melakukannya yaitu ritual yang di dalamnya ada menunduk hormat pada kaisar di Jepang dan KH Hasyim Asy’ari sangat menentang hal tersebut.

Kemudian tentu saja satu hal yang kita tidak bisa lupakan sebagai salah satu peran KH Hasyim Asy’ari adalah “Fatwa Jihad” yang terjadi saat terjadinya Agresi Militer Belanda yang pertama di Kota Surabaya pada tanggal 10 November yang bertujuan untuk mempertahakan keutuhan daripada Indonesia.

Peran KH Hasyim Asy’ari sebenarnya ada banyak sekali dalam berbagai bidang dan hal mulai dari Pesantren sampai ke perannya dalam kemerdekaan dan KH Hasyim Asy’ari  pada 25 Juni 1947 beliau wafat, meskipun begitu kita masih bisa mengambil pelajaran dari sejarahnya, karyanya, dan kita harus meneladani KH Hasyim Asy’ari sebagai ulama dan pejuang.

Niat Kita Sebagai Penuntut Ilmu





Kita sebagai penuntut ilmu harus selalu mengingat dan memperbaiki satu hal yaitu adalah niat, niat kita dalam menuntut ilmu harus selalu kita perhatikan karena seperti yang Rasulullah SAW sabdakan “innamal a’malu binniyyat” segala amalan itu tergantung pada niatnya, jadi dalam melakukan sesuatu dan lebih terkhusus dalam menuntut ilmu kita harus selalu memperhatikan niat kita karena kalau niat kita salah maka amal yang dilakukan akan salah jadi niat dalam menuntut ilmu sangatlah krusial dalam kehidupan kita.

Jadi jika kita ingin membenarkan niat kita bagaimanakah niat yang benar dalam menuntut ilmu? Imam Zarnuji dalam kitabnya Ta’limul Muta’lim menyantumkan tentang hal ini yaitu niat kita dalam menuntut ilmu yang paling utama adalah niat menuntut ilmu karena Allah semata dan bukan karena hal lain ,akan tetapi bukan berarti kita tidak boleh memiliki niat lain, Imam Zarnuji juga menuliskan bahwa kita juga boleh berniat yang lain tentu saja niat yang baik seperti menghilangkan kebodohan dari diri sendiri juga dari orang lain dan agar kita bisa mendapatkan negeri akhirat (surga) akan tetapi tetap menjadikan niat untuk mendapatkan ridho Allah sebagai niat yang utama.

Kita telah tahu bagaimana niat yang baik dan benar dalam menuntut ilmu, maka kita harus senantiasa menjaga niat kita dalam menuntut llmu karena godaan seorang penuntut ilmu sangatlah berat dan banyak sampai Imam Al-Ghazali memperingatkan para penuntut ilmu dalam kitabnya Bidayatul Hidayah bahwa jikalau niat kita dalam menuntut ilmu adalah untuk berlomba-lomba, untuk membuat kita menjadi nomor satu, untuk memalingkan pandangan manusia kepada diri kita, untuk mengumpulkan materi dunia maka kita sama saja kita menjual akhirat kita dengan dunia dan kita akan sangatlah rugi.

Jadi niat dalam menuntut ilmu sangatlah penting dan harus selalu diperhatikan dan diluruskan karena kita harus selalu menjaga niat kita dari penyakit hati seperti sombong, riya’, sum’ah,ujub, dll. Karena niat seperti itu akan sangat merugikan kita dan jika kita tidak ingin rugi maka niatkan dalam menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan ridha Allah semata.

Syaikh Yusuf al-Maqassari, Rihlah Ilmiah, dan Perannya di Nusantara






Ketika Indonesia atau Nusantara sebutannya pada masa itu memasuki abad ke-17, Islam yag berada di Nusantara pada masa itu sudah tidak sedikit namun telah berkembang pesat bahkan di bidang pendidikan dan inteletualitasnya sudah sangat berkembang sampai ke hampir seluruh penjuru Nusantara, hal ini juga bisa kaitkan dengan kejadian yang terjadi 1 abad sebelum itu yaitu pada tahun 1511 tepatnya di Malaka, dimana pada tahun itu Malaka diserang dan ditaklukkan oleh Portugis, karena Malaka merupakan sebuah kesultanan islam dan pelabuhan Internsional yang banyak menampung pedagang muslim dari berbagai penjuru dunia seperti pedagang arab, pedagang cina, pedagaag India, dan pedagang yang lainnya yang mereka ini adalah para pedagang muslim yang berdagang di Malaka, sampai pada saat Portugis menyerang dan Malaka berhasil ditaklukkan oleh Portugis akhirnya para pedagang ini ber”hijrah” ke tempat lain seperti salah satunya Makassar dan disana mereka tidak hanya berdagang sahaja tetapi mereka juga menyebarkan agama islam sampai nanti suatu saat di Makassar lahir seorang ulama besar yaitu Syaikh Yusuf yang sejak kecil diajar dan dididik dengan agama islam dan sampai wafatnya menjadi ulama yang berpengaruh dan masyhur.

Syaikh Yusuf ini merupakan seorang ulama yang sangat berpengaruh di Nusantara dan bahkan di Mancanegara yang dia ini berasal dari Makassar yang pada masanya masyarakatnya dan bahkan rajanya sangat tertarik untuk mempelajari agama islam. Syaikh Yusuf ini lahir di Moncong Lowe, Makassar 3 Juli 1626.

Ulama yang bernama asli Muhammad Yusuf dan bergelar Syaikh al-Hajj Yusuf Abul Mahasin Hadiyatullah Ta’jul Khalwati al-Maqassari al-Bantani ini lahir dalam keadaan biasa-biasa saja namun disaat ia berada dalam kandungan ibunya dia banyak mengalami hal yang bias dibilang ajaib dan aneh sehingga nanti saat Muhammad Yusuf ini lahir ke Dunia banyak masyarakat Makassar pada masa itu menganggap bahwa dia adalah “keramat” atau berkah walaupun riwayat kisah ini tidak sepenuhnya bisa dipegang karena berasal dari cerita mulut ke mulut.

Syaikh Yusuf kecil dibesarkan di dalam Istana Kerajaan Gowa karena Muhammad Yusuf ini sejak kecil sudah diangkat menjadi putera angkat dari Raja Gowa dan diajarkan serta dididik di lingkungan Istana Gowa dan diberi perlakua yang cukup istimewa, sampai Muhammad Yusuf ini telah menyelesaikan Pendidikan dasar tentang keisalaman di Istana Gowa yang pada saat itu Muhammad Yusuf diajarkan oleh seorang yang bernama Daeng Ritsamang.

Setelah menyelesaikan Pendidikan dasarnya di Istana Gowa Muhammad Yusuf pun melanjutkan menuntut dan mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya untuk memperdalam ilmu dasar tentang keislaman yang telah ia pelajari dari Daeng Ritsamang di Istana Gowa. Muhammad Yusuf kemudian mencari seorang guru sampai akahirnya bertemu dengan Sayyid Ba’alawi bin Abdullah al-Allamah Tohir dan menuntut ilmu kepadanya, Sayyid Ba’alawi ini bertempat Di suatu tempat yang bernama Bontoala yang dimana tempat ini adalah pusat keilmuan yang ada di Makassar pada masa itu karena di Bontoala terdapat banyak sekali ulama-ulam yang mengajarkan banyak ilmu dan salah satunya adalah Sayyid Ba’alawi Bin Abdullah al-Allamah Tohir yang Syaikh Yusuf banyak mendapatkan ilmu dari Beliau seperti ilmu Sharaf, Ilmu Nahwu, Ilmu Mantiq, Ilmu Tasawuf, dan macam-macam ilmu lainnya tetapi memang Syailh Yusuf ini menaruh perhatian khusus terhadap Ilmu Tasawuf.

Usai Muhammad Yusuf menuntut ilmu kepada Sayyid Ba’alawi Bin Abdullah al-Allamah Tohir, Muhammad Yusuf tidak berhenti mencari dan menuntu ilmu , kemanapun ia pergi sampai ia menemukan seorang guru yang berada di Kutai bernama Syaikh Jalaluddin al-Aidid yang beliau ini merupakan seorang Ulama yang berasal dari Aceh, kemudian Syaikh Jalaluddin al-Aidid ini mengajarkan kepada Syaikh Yusuf tentang banyak hal terutama tentang ilmu-ilmu syari’at sampai dirasa cukup ilmunya oleh Syaikh Jalaluddin al-Aidid pembelajaran Syaikh Yusuf dan Syaikh Yusuf kembali ke Makassar dan disana Syaikh Yusuf sudah mulai mengajar dan berdakwah kepada masyarakat Makassar dengan ilmu yang ia pelajari tetapi ia tetap menuntut ilmu di Suatu Tempat yang bernama Bawakaraeng yang di Tempat ini terdapat tujuh orang Wali yang memiliki ilmu yang banyak dan Syaikh Yusuf menuntut ilmu kepada mereka sampai suatu hari dia merasakan bahwa ilmu yang ia pelajari di Tanah Makassar sudah cukup. Oleh karena hal itu ia memutuskan untuk pergi merantau dari Makassar dalam tujuan menuntut ilmu yang biasa disebut dengan Rihlah Ilmiah. Syaikh Yusuf memulai Rihlah Ilmiahnya yang bertujuan ke Haramain [Mekkah & Madinah] namun nanti di dalam perjalanannya ke Haramain Syaikh Yusuf mampir ke banyak tempat untuk menuntut ilmu kepada ulama-ulama yang berada di wilayah itu.

Pada Bulan September 1644 Syaikh Yusuf meningggalkan Tanah Makassar untuk memulai Perantauan Rihlah Ilmiahnya dalam rangka menuntut ilmu. Ia meninggalkan Tanah Makassar lewat Pelabuhan Somba Opu yang merupakan salah satu Pelabuhan terbesar yang ada di Makassar pada masa itu. Syaikh Yusuf yang saat itu baru berusia 18 tahun tidak langsung menuju ke Timur Tengah namun ia berhenti dahulu di Banten karena kapal yang ia tumpangi  adalah kapal yang membawa rempah-rempah jadi Ia harus mengikuti rute yang ada.

Saat Syaikh Yusuf tiba di Banten, Banten pada masa itu adalah sebuah Kerajaan Islam yang saat itu Sultannya yaitu Sultan Abul Mafakir yang sangat tertarik kepada ilmu dan banyak mengirimkan pertanyaan-pertanyaan kepada ulama-ulama yang berada di Aceh seperti Syaikh Nuruddin ar-Raniri dan juga kepada ulama-ulama Haramain. Jadi sesampainya di Banten Syaikh Yusuf bisa menuntut ilmu kepada ulama-ulama yang berada di Banten, serta di Banten Syaikh Yusuf menjalin hubungan yang baik dengan kaum pejabat dan bangsawan teruatama dengan Putera Mahkota, yaitu Pangeran Surya.

Syaikh Yusuf Meninggalkan Banten pada tahun 1648 dan kemudian melanjutkan perjalanan Rihlahnya ke Gujarat, India dimana Syaikh Nuruddin ar-Raniri berada dan ia berguru pada ar-Raniri dan akhirnya mendapatkan ijazah Tarekat Qodiriyah, kemudian setelah menuntut ilmu di India Syaikh Yusuf melanjutkan perjalanannya ke Yaman karena di Yaman ini merupakan salah satu Pusat Keilmuan yang disini terdapat banyak sekali ulama-ulama, Syaikh Yusuf di Yaman berhasil mendapatkan Ijazah Tarekat Naqsabandiya yang ia dapatkan dari Muhamma d Bin Abd al-Baqi al-Mizjaji al-Naqsabandi yang merupakan seorang ulama penting di Abad ke-17 yang juga merupakan anggota dari keluarga Mizjaji yang sering kali diidentikkan dengan Tarekat Naqsabandiyah.

Syaikh Yusuf juga menuntut ilmu kepada seorang ulam yang tidak hanya hebat dan ahli dalam ilmu syari’at sahaja namun juga dalam ilmu Tasawuf yaitu Sayyid Ali az-Zabidi dan juga kepada ulama-ulama lain di Yaman sampai Syakih Yusuf melanjutkan perjalanannya ke Haramain.

Saat Syaikh Yusuf menetap di Haramain  Syaikh Yusuf banyak sekali mendapatkan ilmu dari ulama-ulama yang berada di Haramain seperti Syaikh Ibrahim al-Kurani, Syaikh Ahmad Qusyaisi dan bahkan kepada ulama-ulama yang berasal dari India seperti Abdul Karim Lahuri dan Syaikh Muhammad Mirza. Di sini Syaikh Yusuf belajar tentang masalah Tasawuf, Fiqh, Ilmu Kalam, Hadts, Tafsir, dan masih banyak cabang keilmuan lainnya, serta di Mekkah Syaikh Yusuf juga sudah mulai mengajar para murid yang berasal dari Nusantara yang nanti mereka akan menyebarkan ajaran-ajaran Syakih Yusuf al-Maqassari.

Syaikh Yusuf disarankan oleh Syaikh Ahmad Qusyaisi untuk pergi ke Kota Damaskus untuk mempelajari Tarekat Khalwatiyah dengan Sayaikh Ayyub al-Khalwati dan akhirnya Syaikh Yusuf pergi ke Damaskus dan disana ia berhasil mendapatkan gelar yang besar dan tinggi di dalam Tarekat Khalwatiyah yaitu gelar “Tajul Khalwati” yang berarti Mahkota Khalwati.

Setelah 20 tahun semenjak Rihlah Ilmiah Syaikh Yusuf dimulai pada tahun 1644 dan pada usia 38 tahun Syaikh Yusuf akhirnya menyudahi Rihlah Ilmiahnya dan ia kembali Ke Nusantara namun Syaikh Yusuf al-Maqassari tidak kembali ke Makassar melainkan Syaikh Yusuf menetap di Banten dan mengajarkan ilmunya di sana. Karena Syaikh Yusuf dahulu bersahabat dengan Pangeran Surya yang sekarang telah menjadi seorang Sultan Ageng maka dengan mudah Syaikh Yusuf mendapat keduddukan tinggi sebagai ulama di Banten. Syaikh Yusuf ini bahkan dinikahkan dengan putri dari Sultan Ageng Tirtayasa sendiri yang membuat hubungannya  dengan Sultan Ageng menjadi sangat dekat. Ia juga yang mendidik anak dari Sultan Ageng bahkan Sultan Ageng sendiri mengikuti ajaran yang diajarkan oleh Syaikh Yusuf al-Maqassari.

Setelah beberapa tahun Syaikh Yusuf tinggal dan mengajar di Banten Namanya kemudian menjadi masyhur dan terkenal sebagai seorang ulama dan juga murid dan pengikutnya semakin lama semakin banyak, sebagian dari mereka adalah orang Makassar yang tinggal di Banten.
Syaikh Yusuf di Banten membuka pengajian umum untuk para penduduk dan juga ia menjadi seorang Muballigh untuk menyebarkan ajarannya.

Perang akhirnya pecah dan muncul didalam kesultanan Banten itu sendiri yang dimulai oleh Sultan Haji [anak Sultan Ageng] yang bekerja sama dengan pihak Belanda untuk mengambil kekuasaan Sultan Ageng dan Perang itu dimulaipada awal tahun 1682. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya tertangkap pada tahun 1683, namun walaupun Sultan Ageng Tirtayasa sudah tertangkap perjuangan melawan Belanda tetap ada dan terus berkobar dan dipimpin oleh tidak lain adalah syaikh Yusuf al-Maqassari sendiri.

Syaikh  Yusuf melakukan Perang Gerilya Bersama dengan 4000 pasukannya yang terdiri dari murid dan pengikutnya yang mana mereka ini sangat sulit untuk ditaklukkan karena mereka juga dibantu oleh para penduduk dalam bersembunyi, tapi karena Belanda licik akhirnya mereka berhasil menangkap Syaikh Yusuf pada 14 Desember 1683 dengan cara mereka menawan istri dan anak Syaikh Yusuf dan mereka menyamar menjadi Muslim yang berpakaian orang Arab dan kemudian menangkap dan memenjarakan Syaikh Yusuf.

Syaikh Yusuf al-Maqassari telah berhasil ditangkap oleh Belanda oleh karena itu otomatis Perang Banten berakhir dan berita penangkapan Syaikh Yusuf tersebar luas ke Seluruh Batavia. Syaikh Yusuf sangat dikagumi dan memiliki banyak sekali pengikut yang sangat setia kepada Syaikh Yusuf, sehingga membuat Belanda menjadi khawatir jika nanti mereka bangkit dan berusaha membebeaskan Syaikh Yusuf dari penjara sehingga akhirnya Syaikh Yusuf diasingkan ke Sri Lanka/Ceylon Bersama dengan anak isterinya.

Pengasingan Syaikh Yusuf ke Sri Lanka ternyanta merupaka sebuah rahmat tersendiri bagi Syaikh Yusuf karena di Sri Lanka Ia bisa menulis Kitab Safinatunnajah, disana juga ia tetap mengajar orang-orang Melayu-Nusantara yang ada disana. Ia juga banyak membangun koneksi terhadap ulama atau bahkan penguasa yang ada di Sri Lanka. Syaikh Yusuf diasingkan tidak berartiIa tidak bisa melakukan perjuangannya melawan Belanda dan ternyata memang Ia di Sri Lanka tetap melawan Belanda karena Sri Lanka merupakan tempat transit Jama’ah haji yang berasal dari Nusantara dan di Sri Lankalah tempat mreka transit dan saat mereka transit di Sri Lanka Syaikh Yusuf menitipkan tulisan-tulisan untuk mereka bawa kembali ke Nusantara dan ternyata atas aktivitas yang dilakukan Oleh Syaikh Yusuf Belanda menjadi khawatir dan takut sehingga akhirnya Syaikh Yusuf dipindahkan pengasingannya ke Tempat yang lebih jauh oleh Belanda yaitu Ke Afrika Selatan tepatnya di Tanjung Harapam/Cape Town.

Syaikh Yusuf dibuang ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan yang adalah tempat pembuangan bagi orang-orang Melayu-Nusantara yang dianggap berbahaya oleh Belanda. Disini Syaikh Yusuf mengajar para budak dan orang Melayu yang dibuang disini. Di Aafrika Selatan Syaikh Yusuf lebih banyak melawan Kristenisasi yang marak terjadi disana dan juga saat berada di Afrika Selatan Ia banyak mengajar tentang Tasawuf sampai diduga bahwa tiga Tarekat yang ada di Afrika Selatan yaitu Naqsabandiyah, Qodiriyah, dan Rifa’iyah diperkenalkan oleh Syaikh Yusuf al-Maqassari.
Sampai akhir hayatnya Syaikh Yusuf menetap di Tanjung Harapan dan ia meninggal pada tanggal 22 Mei 1699 dan dimakamkan disana, tapi pada tahun 1705 Sultan Gowa meminta agar jasad Syaikh Yusuf dibawa dan dipindahkan ke Makassar dan kedua makam ini masih ada dan sampai sekarang masih dikunjungi.

Jadi Syaikh Yusuf ini adalah seorang ulama yang sangat bepengaruh besar bagi umat islam terutama bagi umat islam yang berada di Nusantara yang banyak mengikuti ajaran Syaikh Yusuf Sehingga keislaman yang ada di Nusantara ini tidak bisa dilepaskan dari peran Syaikh Yusuf al-Maqassari.

Malaka 1511






Malaka adalah sebuah kesultanan islam yang didirikan oleh seorang pangeran yang lari dari kerajaan Palembang yang bernama prameshwara . Malaka memiliki pelabuhan yang sangat strategis dan sangat penting untuk jaringan perdagangan internasional pada masanya. Banayak sekali pedagang-pedagang muslim dan non-muslim disana dan selain menjadi pusat perdagangan Malaka juga menjadi pusat studi islam dan pusat penyebaran islam. 
                                                                                            
Pada tahun 1511 masehi orang-orang portugis datang ke Malaka dan awalnya disambut oleh sultan Malaka pada saat itu yaitu, Sultan Mahmud Syah. Sultan Mahmud Syah awalnya menyambut kedatangan orang-orang Portugis  di Malaka , namun persatuan para pedagang yang ada di Malaka memberi tahu ke Sultan Mahmud Syah bahwa orang-orang Portugis yang datang ke Malaka itu akan menyerang Malaka seperti Portugis menyerang Goa, kemudian setelah mendengar saran dari para pedagang Sultan Mahmud Syah menangkap orang-orang portugis, membunuh beberapa, dan membakar beberapa kapal portugis ,akan tetapi kapal orang-orang portugis dapat melarikan diri dari Malaka. Kemudian pada bulan April tahun 1511 Masehi ,Albuqurque datang dari Goa ke Malaka membawa 1200 orang  dan 18 kapal untuk menyerang Malaka .Saat sampai di Malaka Albuqurque dan pasukannya kemudian menyerang Malaka walaupun dengan pasukan senjata yang tidak banyak dibandingkan dengan Malaka Portugis dapat mengalahkan Malaka karena memiliki senjata api, kegigihan, serta semangat perang salib. Akhirnya Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun 1511.

Portugis yang telah menguasai Malaka dan menaklukkannya ,akan tetapi Portugis tidak dapat menguasai perdaganga yang ada di Malaka ,padahal Portugis datang ke Malaka agar bisa mendapatkan keuntungan daripada pusat perdagangan yang ada di Malaka, malahan setelah ditaklukkan oleh Portugis Malaka menjadi sepi karena pajak para pedagang yang sangat tinggi dan Portugis menerapkan monopoli perdagangan yang menyebabkan para pedagang pinfah ke tempat-tempat lain yang lebih menguntungkan. Selain karena faktor tadi Malaka dibawah kekuasaan portugid diboikot oleh Negara Negara islam seperti Jawa, Samudra Pasai,dll.

Selain untuk mendapatkan keuntungan perdagnagan portugis juga datang ke Malaka untuk mengkristenkan para penduduk Malaka ,tetapi para penduduk Malaka banyak yang masih berpegang pada agama islam namun ada juga yang pindah agama ke Kristen, tetapi secara keseluruhan misi mengkristenkan muslim tidak berhasil walaupun Portugis pada setiap perjalanan pendeta-pendetanya ikut, setiap bersauh selalu dibangun gereja di samping benteng atau di samping pos perdagangan tetap orang-orang muslim yang ada di Malaka masih banyak yang islam walaupun orang-orang Portugis menerapkan politik parado atau politik De-islamisasi yaitu adalah politik yang melawan islam tanpa lelah dan berteman serta toleran terhadap penyembah berhala. Jadi orang-orang Portugis ingin mengkonversi keyakinan penduduk Malaka karena dengan menjadikan penduduk Malaka berkeyakinan sama dengan orang-orang Portugis maka akan lebih mudah menguasai perdagangan yang ada di Malaka dan juga muslim yang tidak ingin berubah keyakinan maka akan dilakukan pembersihan islam seperti kasus Ninanchatu yaitu orang-orang Portugis mengganti orang-orang muslim dengan para penyembah berhala yaitu orang-orang hindu. Yang terjadi di Malaka tidak seperti yang terjadi di Goa yang hampir seluruh penduduknya menjadi Kristen, Malaka tudak mengalami perpindahan agama yang besar.

Keadaan di Malaka setelah ditaklukkan oleh Portugis sangatlah berbeda dengan keadaannya sebelum ditaklukkan oleh Portugis dimana banyak pedagang yang datang dari mana-mana untuk berdagang di Malaka, banyak penduduk muslim yang masih taat, dan hal-hal lain yang sangat berbeda dengan Malaka sebelum ditaklukkan Portugis. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa setelah Malaka ditaklukkan oleh Portugis para pedagang mulai menjadi sangat sepi karena pajak bagi pedagang sangatlah tinggi  dan juga karena orang-orang Portugis memonopoli perdagangan yang ada ,oleh karena itu para pedagang meninggalkan Malaka dan pindah ke tempat lain untuk berdagang tanpa terganggu oleh orang-orang Portugis, dan seperti yang dikatakan oleh padre eredia banyak orang-orang Malaka yang minum wine(anggur) dan memakan daging babi, jadi disebutkan oleh pare eredi bahwa orang-orang Malaka banyak yang minum wine dan memakan daging babi berarti banyak orang-orang muslin yang minum wine dan memakan daging babi , hal itu berarti banyak dari para penduduk Malaka yang ada di Malaka meniru gaya hidup dan perilaku orang-orang Portugis yang suka minum wine dan memakan daging babi karena umumnya orang-orang yang dijajah akan mengikuti orang-orang yang menjajahnya. Jadi para pendudu Malaka termasuk yang muslim banyak yang mengikuti gaya hidup dan perilaku orang-orang Portugis dan keadaan Malaka setelah ditaklukkan Portugis sangat buruk karena banyak terjadi hal-hal yang sangat jauh daripada daripada peradaban bahkan Malaka setelah ditaklukkan oleh Portugis menjadi suatu tempat yang biadab.

Jadi Malaka yang sebelumnya adalah negeri muslim yang hebat setelah ditaklukkan oleh Portugis Malaka yang tadinya identik dengan islam, perdagangan , dll. Menjadi sebuah tempat yang identik dengan Portugis yang tidak lain kebiasaannya adalah minum wine dan makan babi dan hak-hak tidak beradab lainnya.Jadi intinya Malaka setelah ditaklukkan oleh Portugis menjadi sebuah negeri yang tidak beradab.